Categories: Parenting

Bagaimana Cara Ayah Berinteraksi dengan Anak?

Cara membesarkan anak sangat bervariasi dalam berbagai budaya, dan pandangan tentang perbedaan gender berubah seiring waktu, tetapi tampaknya ada beberapa perbedaan yang jelas dalam cara anak laki-laki dan perempuan diperlakukan. Sementara sebagian besar penelitian anak usia dini berfokus pada bagaimana Ibu berinteraksi dengan anak-anak mereka. Lalu bagaimana interaksi Ayah dengan si kecil?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Ibu lebih banyak berbicara dengan putri mereka dan secara aktif mencegah mereka dari kegiatan apa pun yang mungkin menyebabkan mereka terluka. Di sisi lain, baik Ibu dan Ayah lebih cenderung terlibat dalam permainan fisik bersama anak laki-laki mereka daripada dengan anak perempuan. Orang tua juga tampaknya berbeda dalam menanggapi ledakan emosi antara anak perempuan dan laki-laki. Dalam sebuah studi penelitian tahun 2005, Ayah ditemukan lebih mudah menerima anak perempuan ketika putri mereka menunjukkan kepatuhan atau perilaku prososial, sementara Ayah akan lebih cenderung aktif menanggapi anak laki-laki mereka ketika si jagoan berperilaku diluar harapan orang tua atau saat tantrum.

Menurut teori sosial-kognitif Albert Bandura tentang perkembangan gender, orang tua sering memiliki stereotip gender yang jelas tentang perilaku “yang pantas” untuk jenis kelamin berbeda yang nantinya akan berpengaruh pada hukuman dan penghargaan yang diberikan dalam memastikan bahwa anak-anak mereka mematuhi harapan atas perilaku “yang pantas” tersebut. Anak laki-laki sering dianggap tidak pantas saat bermain boneka atau bertindak “feminin,” sementara anak perempuan sering dicegah melakukan kegiatan yang berisiko secara fisik.

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Jurnal Behavioral Neuroscience memberikan salah satu analisis mendalam pertama tentang bagaimana Ayah berinteraksi dengan anak-anak mereka dan apa artinya ini dalam hal fisiologi otak. Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh James K. Rilling dari University’s Center for Translational Social Neuroscience merekrut 69 pria (usia rata-rata: 33 tahun) yang merupakan orang tua dari anak-anak berusia satu hingga dua tahun; 34 Ayah memiliki seorang putri dan 35 memiliki seorang putra, tanpa perbedaan demografis yang signifikan antara kedua kelompok.

Hasil analisis menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam bahasa dan pola perilaku antara Ayah tergantung pada apakah mereka berinteraksi dengan putra atau putri. Seperti yang diperkirakan, para Ayah lebih cenderung terlibat dalam permainan fisik dengan anak laki-laki daripada anak perempuan. Ini termasuk perilaku menggelitik, tinju-tinjuan, dan bahkan bergulat. Ketika berinteraksi dengan anak perempuan, Ayah lebih cenderung terlibat dalam bernyanyi atau bersiul, dan juga lebih emosional dan responsif secara sosial.

Ada juga perbedaan yang signifikan dalam jenis bahasa yang digunakan dengan putra dan putri. Para Ayah lebih cenderung menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan prestasi dengan putra-putra mereka— “tangguh,” “menang,” “bangga” — sementara menggunakan kata-kata yang lebih bermuatan emosi dengan anak perempuan mereka. Jika dilihat dari perilakunya saja, Ayah tampaknya memperkuat ekspektasi gender dengan mendorong anak perempuan untuk lebih berempati sambil mendorong anak laki-laki untuk menjadi lebih kompetitif.

Dalam melihat temuan MRI, juga tampak ada perbedaan signifikan dalam respon otak antara Ayah dari anak perempuan dan Ayah dari anak laki-laki. Ayah dari anak perempuan menunjukkan aktivasi yang jauh lebih tinggi di bidang pemrosesan visual otak daripada Ayah dengan anak laki-laki ketika ditunjukkan gambar wajah bahagia anak-anak mereka. Mereka juga menunjukkan aktivasi yang lebih besar di korteks orbitofrontal terkait dengan regulasi emosional.

Secara keseluruhan, hasil ini menyoroti banyak perbedaan yang terlihat pada bagaimana Ayah berinteraksi dengan anak laki-laki dan perempuan mereka, dan apa yang mungkin berarti bagi perkembangan peran gender pada anak-anak. Sebagaimana James Rilling dan rekan-rekannya tunjukkan, laki-laki memiliki tingkat testosteron yang lebih tinggi, yang telah terbukti terkait dengan preferensi untuk bermain fisik. Hal ini juga mempengaruhi pemilihan teman bermain sehingga kedua anak laki-laki dan perempuan yang memiliki testosteron yang tinggi lebih cenderung memilih gaya bermain yang lebih agresif. Lebih banyak penelitian seperti ini dapat memberikan petunjuk penting tentang perbedaan gender dan kesejahteraan umum anak-anak saat mereka tumbuh dewasa.


Share experience (stories) Parenting moms and dads ke parentlyid@gmail.com untuk kita share dan menginspirasi parents lainnya. Follow juga Instagram @ParentlyID dan tag #ParentlyID

Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

View Comments

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago