Categories: Play

Benarkah Video Game Kekerasan Membuat Anak Lebih Agresif?

Saat melihat anak-anak bermain game, kita mungkin jadi ingat fenomena video game dengan mode Battle Royale dan MOBA yang tengah digandrungi.

Game-game seperti itu terlihat seperti mengkartunkan kekerasan dengan berbagai fitur yang unik. Saat ini, mode game ini telah menarik ratusan juta pemain di seluruh dunia. Bahkan kita bisa dengan mudah menemukan anak SD yang berkumpul bersama dengan gadgetnya untuk memainkan game genre ini.

Meskipun gambaran kekerasannya tidak terlalu mengerikan, dasar permainannya tak bisa lepas dari kekerasan. Tujuan utamanya adalah membunuh pemain lain. Popularitas permainan jenis ini memunculkan pertanyaan tentang efek game kekerasan. Apakah video game kekerasan mengarah ke kekerasan di kehidupan nyata?

Beragam penelitian dilakukan oleh banyak peneliti untuk menjawab pertanyaan itu. Selama bertahun-tahun para peneliti telah melakukan penelitian untuk mencari tahu apakah video game kekerasan menyebabkan masalah seperti agresi, kurangnya empati dan performance yang buruk di sekolah. Banyak penelitian menemukan bahwa orang-orang yang bermain video game kekerasan lebih cenderung terlibat dalam perilaku agresif. Bahkan, cukup banyaknya penelitian yang mengarah ke kesimpulan ini membuat American Psychiatric Association (APA) menerbitkan policy statement pada tahun 2015. APA menyimpulkan bahwa bermain video game kekerasan mengarah ke suasana hati dan perilaku yang lebih agresif dan mengurangi perasaan empati dan kepekaan.

Tetapi sebagian besar peneliti yang berfokus pada kesehatan anak dan remaja tidak setuju. Bahkan, sekelompok mahasiswa berjumlah 230 orang dari universitas di seluruh dunia menerbitkan surat terbuka pada tahun 2013 yang menyebut sikap APA terhadap video game kekerasan “menyesatkan dan mengkhawatirkan.” Dan banyak dari para mahasiswa yang sama angkat bicara setelah policy statement tahun 2015.

Musim panas lalu, sebuah divisi dalam APA yang berfokus pada media menerbitkan pernyataan mereka sendiri untuk menganjurkan para pejabat pemerintah dan media berita lainnya untuk menghindari pengaitan tindakan kekerasan dengan video game. Inilah alasannya.

  • Analisis besar-besaran tentang kejahatan dengan kekerasan dan penggunaan video game kekerasan tidak menemukan bukti bahwa peningkatan penjualan video game kekerasan mengarah ke lonjakan kejahatan dengan kekerasan. Para peneliti awalnya berasumsi jika permainan kekerasan secara langsung mengarah ke perilaku kekerasan, data akan menunjukkan peningkatan kejahatan dengan kekerasan dalam skala besar karena lebih banyak orang memainkan permainan kekerasan. Tapi nyatanya tidak. Bahkan, ada beberapa bukti yang menunjukkan kalau semakin banyak anak muda bermain video game, tingkat kekerasan mereka menurun.
  • Analisis terbaru menemukan bahwa penelitian tentang video game rentan terhadap kesimpulan yang salah.
  • Ulasan lain menyatakan bahwa banyak penelitian tentang kekerasan dan video games dipengaruhi oleh bias publikasi. Apa itu bias publikasi? Jadi, penelitian yang menyimpulkan bahwa video game menyebabkan agresi dan kekerasan lebih cenderung dipublikasikan daripada studi yang menemukan video game kekerasan tidak memiliki efek pada kekerasan. Akibatnya, kebanyakan ulasan yang menyimpulkan video game kekerasan menyebabkan agresi tidak mempertimbangkan penelitian yang bertentangan.
  • Ada penelitian lain yang tidak menemukan kaitan antara video game kekerasan dan dampak negatif, seperti berkurangnya empati, agresi, dan depresi.

Dari penjelasan itu tadi, apa pesan yang bisa kita ambil? Pertama, tidak ada bukti kuat dan tak terbantahkan yang mengatakan video game kekerasan mengarah pada perilaku agresif. Tapi, bukan berarti setiap permainan cocok untuk semua anak. Sebagai orang tua yang bijak, perhatikan rating dan batas usia pemain pada game yang hendak dimainkan anak. Tentu saja, banyak video game kekerasan yang menakutkan dan tidak pantas untuk anak. Memahami kebutuhan setiap anak, menetapkan aturan untuk penggunaan smartphone ataupun perangkat game lainnya, dan memantau aktivitas anak-anak di depan layar adalah cara yang lebih masuk akal untuk mengawasi si kecil bermain video game.

Rating Video Games (Kemdikbud)
Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago