Categories: Parenting

Cara Menyelesaikan Konflik dengan Anak

Setiap orang tua tahu memiliki ritual yang berbeda, namun salah satu ritual yang dapat kita lihat di kehidupan sehari-hari adalah kewajiban anak untuk tidur tepat waktu. Orang tua sepertinya sudah terbiasa untuk mengingatkan anaknya tidur. Namun, jika suatu ketika, si kecil berteriak “Aku gak mau tidur!”, apa yang terjadi? Sebagian orang tua ada yang bersabar dan mencoba cara lain, namun ada juga yang kehilangan kesabaran dan mengucapkan kata-kata yang tidak terlalu baik. Akan tetapi, setelah si kecil tertidur, apakah kita pernah mengkhawatirkan apa yang telah dikatakan atau bahkan merasa kita adalah orang tua yang tidak baik?

Ya, sebagian orang tua ada yang menyadarinya, ada yang tidak. Itupun masih salah satu contoh konflik sederhana dengan anak. Namun, alangkah baiknya jika apapun konflik yang terjadi, dapat diselesaikan dengan baik. Kualitas hubungan orang tua dengan anak pun akan meningkat. Berikut adalah empat panduan penting dalam menyelesaikan konflik dengan si kecil.

via GIPHY

Jangan sampai kita merasakan Vertigo

Mungkin tidak ada hubungan dalam kehidupan ini yang sama kuatnya antara orang tua dan anak. Jadi ketika konflik meningkat, orang tua berisiko merasakan ketegangan emosi sampai membuat kita tidak dapat memikirkan hal lain. Pengalaman seperti itu dapat disebut sebagai “vertigo”, karena kita akan merasa dunia berputar tanpa kendali. Setiap kali kita mencoba untuk kembali fokus, anak membuat permintaan baru atau bahkan mencari perhatian dengan mengganggu saudaranya yang lain, menarik kita selangkah lebih jauh ke dalam pusaran emosi yang sedang dirasakan.

Agar kita tidak sampai merasakan “vertigo”, maka saat ketegangan meningkat, tanyakan pada diri sendiri satu pertanyaan penting, “Apakah saya benar-benar ingin terjebak dalam konflik ini?” Kemungkinan besar, jawabannya adalah “tidak”. Jadi luangkan waktu sejenak agar dapat berpikir jernih kembali. Ambil napas dalam-dalam dan bayangkan diri kita satu jam dari sekarang, sendirian di kamar mandi atau di tempat tidur bersantai, mendengarkan musik dan membaca buku.

Hargai pendapat anak

Kita, orang tua, cenderung berpikir bahwa kita tahu semua jawaban yang benar, terutama ketika kita berdebat dengan anak-anak. Tetapi hanya karena kita memiliki kuasa yang lebih atas anak-anak, tidak berarti bahwa perspektif mereka salah. Anak-anak sering kali memiliki alasan yang baik dibalik perilaku mereka. Memang kita perlu waktu untuk bertanya, mendengarkan, dan mencoba memahami mereka. Ketika anak yang berusia sepuluh tahun mulai berteriak bahwa kita memperlakukannya dengan tidak adil, jangan hanya membela perilaku kita. Tanyakan mengapa dia berpikir seperti itu. Dia mungkin cemburu dengan sikap lembut yang kita tunjukkan dalam mendisiplinkan adiknya, atau dia mungkin butuh perhatian lebih.

Your kids require you most of all to love them for who they are, not to spend your whole time trying to correct them.

Bill Ayers

Berikan kesempatan pada anak untuk mandiri

Bayangkan bagaimana perasaan sebagai seorang anak seandainya orang tua memberi tahu kita jam berapa untuk bangun, makan apa, kapan harus tidur, bahkan mengajari bagaimana kita harusnya berbicara. Maka tidak mengherankan jika anak-anak juga menginginkan kebebasan untuk menentukan nasib mereka sendiri. Jadi, lain kali jika anak bertanya apakah waktu tidurnya dapat diundur setengah jam, jangan hanya berkata tidak. Tanyalah kenapa. Dengarkan alasannya, dan beri dia pilihan seperti: “Kalau kamu begadang nanti malam, kamu harus tidur lebih awal besok malam. Mana yang kamu mau?”.

Hindari pemaksaan berulang

Pernahkah kita berada pada situasi dimana kita meminta anak untuk berhenti menjahili saudaranya? Bukannya menurut, anak malah semakin menjadi-jadi sehingga kita harus berulang-ulang memaksa anak berhenti hingga terjadi pertengkaran verbal? Maka, kuncinya adalah memperhatikan pola konflik kita. Apakah penyelesaiannya baik? jika tidak, maka berkomitmenlah untuk mengubah satu atau dua tindakan dalam proses itu. Jadi, misal terjadi pemicu konflik yang sama, alih-alih memaksa terus menerus untuk menuruti kita, mungkin kita dapat meminta sarannya tentang bagaimana kita bisa mengatasi situasi ini. Dengan meminta saran si kecil, maka dapat menyadarkan kita dan anak-anak dari pola konflik yang biasanya, dan menciptakan ruang bagi orang tua dan si kecil untuk melakukan percakapan yang lebih produktif.

Jadi, tidak ada kata terlambat untuk menyelesaikan konflik dengan si kecil. Bertindaklah hari ini, besok, dan seterusnya.

Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

View Comments

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago