Categories: Parenting

How to Avoid Power Struggles with Your Teen

Beberapa orang tua tampaknya tidak sadar bahwa si kecil yang dulu sangat manis dan mengagumi sosok orang tuanya, sekarang mulai berani mempertanyakan aturan-aturan yang diberikan oleh orang tua. Tidak berhenti disitu, mereka pun seakan meminta jawaban atas semua pertanyaan mereka terkait aturan itu. Sebagian dari kita, para orang tua, ada yang terkaget dengan perubahan perilaku ini dan bahkan memperkuat batas-batas aturan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Masalah dengan perubahan ini sebenarnya muncul saat anak remaja yang bersangkutan memiliki kemungkinan untuk melebihi batas-batas itu, dan kita sebagai orang tua kurang memerhatikan kemungkinan tersebut. Mereka sudah menjadi lebih berani, mereka dapat meninggalkan rumah kapanpun mereka mau, mereka mungkin memiliki jaringan pertemanan mereka sendiri, bahkan teman-temannya pun bisa tinggal di tempat kita ketika mereka mau, dan masih banyak lagi perubahan yang terjadi.

Bagi orang tua yang terjebak dalam power struggles atau ‘adu kekuatan’ dengan anak yang sedang dalam masa transisi menuju dewasa tersebut, hal pertama yang harus dipahami adalah masa depan anak remaja tidak akan terlihat begitu cerah jika dia terus menentang kita. Mengapa?  Karena kenyataannya, saat mereka sibuk menentang kita, mereka pun kehilangan waktu untuk memikirkan masa depannya.

Ugo Uche, seorang konselor professional yang mendalami bidang ‘remaja dan dewasa muda’, menyatakan bahwa kebanyakan anak remaja yang terbiasa terlibat dalam adu kekuatan dengan salah satu atau kedua orang tua mereka, sebenarnya memiliki alasan tertentu dan cenderung sedang mengusahakan untuk tidak jatuh ke dalam masa depan yang membosankan versi mereka. Seringkali orang tua yang terlibat pertengkaran adalah orang-orang yang menahan anak remajanya untuk memiliki harapan yang tinggi.

Jadi, apa yang harus kita lakukan saat pertama atau kesekian kalinya anak remaja kita menantang kita? Berikut adalah tiga langkah yang harus diambil.

Langkah Pertama: Don’t Make it About You

Penurunan ego sangat penting di sini. Selain itu, aturan mainnya bukanlah tentang kita melainkan tentang anak remaja kita. Sebagai orang tua, kita harus paham dimana kita akan memberikan bantuan untuk mendukung pertumbuhan yang sukses pada anak remaja kita. Berikut hal yang dapat kita sampaikan kepada anak remaja kita, atau bahkan dapat disesuaikan dengan kata-kata sendiri:

“Alasan Ayah dan Ibu memberlakukan jam malam di rumah adalah untuk membuat kamu tetap aman dan melatih disiplin diri kamu. Apakah menurutmu ini tidak berhasil? Kalau iya, Ayah ingin tahu mengapa…”

Pendekatan ini menggunakan pendekatan kasih sayang dan juga memberikan kesempatan kepada anak remaja kita untuk bertanggung jawab dalam menjelaskan perilakunya tanpa merasa diserang.

Langkah Kedua: Identifikasi Sasaran dan Tujuan Anak Remaja Kita

Coba perhatikan anak remaja kita, apakah ia mendapatkan nilai yang baik di sekolahnya? Jika iya, apakah hal tersebut sudah sesuai dengan masa depan yang diinginkannya sehingga mengharuskan ia mendapatkan nilai bagus? Namun jika tidak, setelah kita mendapatkan mereka tengah menentang aturan yang kita berikan, maka gunakanlah saat-saat itu sebagai kesempatan bagi kita dan anak remaja kita untuk duduk dan mempelajari apa yang sebenarnya diinginkan remaja kita di masa depannya. Jika remaja kita tidak memiliki petunjuk, itu mungkin akan menjelaskan kurangnya persiapan mereka untuk merencanakan masa depannya. Ditambah lagi, dengan membantu anak remaja kita mengidentifikasi sasaran dan tujuan untuk masa depannya, juga akan membantu memperkuat ikatan antara orang tua dan anak remajanya.

Langkah Ketiga: Bahas dan Sepakati Aturan Baru yang Tepat untuk Anak Remaja Kita

Agar langkah ini sukses, maka langkah kedua harus berhasil terlebih dahulu. Jika kita dan anak remaja kita tidak punya waktu untuk mengidentifikasi sasaran dan tujuan masa depannya, kita dapat menetapkan beberapa aturan sementara, sampai kita dapat menyelesaikan langkah kedua.

Alasan mengapa langkah kedua penting adalah agar anak remaja kita setuju dan mau mematuhi aturan dalam rumah, ia harus melihat bahwa dengan mengikuti aturan, maka mereka dapat memperoleh apa yang menjadi sasaran mereka, dan sebaliknya, ia akan merasa banyak kehilangan jika tidak mengikuti aturan tersebut. Jika langkah kedua tidak berjalan baik, maka dikhawatirkan ketika orang tua berhadapan dengan anak remaja yang menentang, yang cenderung ingin ‘mandiri’, anak remaja yang bersangkutan tidak akan mendapatkan alasan untuk mengikuti aturan yang diberikan orang tua.

Intinya, dengan sasaran dan tujuan realistis yang disesuaikan untuk kesuksesan masa depan remaja kita, maka akan lebih mudah bagi mereka ketika harus mematuhi aturan rumah yang telah kita tetapkan bersama.

Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago