Categories: Parenting

Kiat Mendisiplinkan Anak Tanpa Merasa Cemas

Anak berusia tiga tahun yang suka membantah, berbohong, dan bersikap tidak hormat berada pada tahap kehidupan yang berbeda dari seorang anak berusia 16 tahun yang bertindak tidak sopan. Meskipun keduanya sebaiknya dimaafkan, tapi beberapa petunjuk tentang tahap kehidupan anak ini bisa membantu kita memahami perkembangan anak lebih dalam.

Seorang teoretisi bernama Erik Erikson menyusun tahapan yang dilalui anak-anak berdasarkan usia. Sekitar usia 3 tahun, anak-anak belajar untuk bergaul dengan orang lain dan mulai bereksperimen dengan perasaan empati. Ketika mereka mempelajari hal-hal ini, mereka mungkin mengalami kesulitan untuk berbagi dan tidak sepenuhnya memahami sudut pandang orang lain. Antara usia 6 dan 12, anak-anak bersekolah dan perlahan-lahan menerima bahwa banyak hal tidak akan selalu berjalan sesuai keinginan mereka. Mereka mulai menerima bahwa mereka tidak terlihat sebagai pangeran atau putri yang sering diceritakan kepada mereka. Anak-anak pada usia ini mungkin memiliki masalah dalam menerima bahwa anak-anak lain bermain dan berteman dengan orang lain. Antara usia 12 dan 19 tahun, remaja mulai menemukan tempat mereka di dunia. Mereka menemui masalah yang berkaitan dengan bagaimana bisa diterima oleh kelompok, pengaruh hormon dan efeknya pada penampilan, dan memahami dunia mungkin bukan tempat yang adil.

Orangtua perlu strategi untuk mengatasi perilaku ini dan mengurangi kecemasan mereka sendiri. Sehubungan dengan ini, strategi berikut mungkin bisa membantu:

Bersikap konsisten

Pastikan apa yang kita harapkan pada anak tetap sama setiap harinya. Misalnya, jika kita tidak ingin si kecil menggunakan kata-kata kasar, pastikan aturan itu juga ada di sekolah atau rumah temannya.

Jangan membuat ancaman

Jelaskan aturan dan konsekuensinya. Jika anak memilih untuk melanggar aturan, terapkan konsekuensinya. Mengancam dengan hukuman terus-menerus hanya akan mengajarkan anak bahwa aturan tidak berlaku sampai mereka telah diperingatkan beberapa kali. Juga, jangan pernah mengancam sesuatu yang tidak akan bisa kita ikuti. Ini mengajarkan anak bahwa konsekuensi kita tidak berarti apa-apa, dan mereka bisa melakukan apa pun yang mereka sukai.

Berikan konsekuensi langsung

Jika kita mengatakan konsekuensinya adalah mereka tidak akan mendapatkan dessert kalau anak tidak menyelesaikan makan malam, pastikan kita menindaklanjuti konsekuensi yang diucapkan. Memberi mereka makanan penutup setelah mengatakan ini sebagai konsekuensinya mengajarkan anak bahwa aturan tidak berarti apa-apa. Anak-anak perlu merasakan konsekuensi sedekat mungkin dengan perilaku yang menyimpang. Anak-anak kecil tidak akan belajar untuk tidak mengulangi perilaku jika mereka tidak ingat kesalahan apa yang mereka lakukan atau kaitannya dengan konsekuensi.

Gunakan konsekuensi alami dan logis

Sebagai contoh, seorang anak yang menolak untuk makan malam bisa merasa lapar saat ia bersiap untuk tidur. Kelaparan adalah konsekuensi alami dari tidak makan dan kemungkinan besar memastikan anak untuk makan malam terus sejak saat itu. Yang penting adalah bahwa konsekuensinya secara logis berkaitan dengan perilaku.

Berikan perhatian ketika anak membutuhkan

Anak-anak perlu merasa kalau mereka didukung, dipedulikan, dan dipercaya bahwa mereka  bisa berperilaku dengan tepat. Jika kita tidak memberi mereka perhatian positif, anak-anak sering menggunakan perilaku negatif untuk merasa terhubung.

Akhirnya, ketahuilah bahwa anak yang mungkin terlihat tidak sopan di rumah namun bisa berperilaku baik di sekolah dan di sekitarnya menunjukkan bahwa sebenarnya rumah kita aman. Meskipun bukan berarti perilaku mereka benar, mungkin akan terasa menenangkan mengetahui bahwa anak-anak membutuhkan tempat di mana mereka bisa melampiaskan frustrasi, dan itu hanya terjadi di lingkungan yang aman dan terpelihara bagi mereka. Terima ini dengan positif, ajari terus si kecil untuk mau menceritakan apapun yang terjadi di sekitarnya.

Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago