Categories: Parenting

Langkah-langkah Mewujudkan Parenting yang Lebih Efektif

Membesarkan anak-anak adalah salah satu tugas yang paling sulit namun juga paling memuaskan di dunia. Tetapi, sebagai ‘orang tua baru’, hal yang wajar jika kita merasakan was-was saat baru dikaruniai anak. “Bagaimana ya biar anakku nanti bisa menjadi anak yang baik?” “Aku ingin jadi orang tua yang baik, tapi bagaimana ya caranya?”. Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali muncul di benak para ‘orang tua baru’. Untuk mengurangi rasa khawatir yang muncul, berikut ini sembilan kiat membesarkan anak yang dapat membantu kita merasa lebih puas sebagai orang tua.

Tingkatkan Harga Diri Anak

Anak-anak mulai mengembangkan kesadaran diri mereka mulai dari bayi. Nada suara kita, bahasa tubuh kita, dan setiap ekspresi kita diserap oleh anak-anak. Kata-kata dan tindakan kita sebagai orang tua juga memengaruhi perkembangan harga diri mereka. Maka dari itu, memberikan komentar meremehkan atau membandingkan anak dengan orang lain dengan cara tidak menyenangkan akan membuat anak-anak merasa tidak berharga.

Hindari membuat pernyataan yang dapat membebani si kecil, seperti “Kelakuan kamu seperti bayi daripada adikmu!”. Kata-kata senjata seperti itu memberi kerugian yang sama layaknya hukuman fisik. Pilihlah kata-kata dengan hati-hati, jangan lupa untuk tetap menambahkan bumbu ‘kasih sayang’ di tiap kata yang dilontarkan kepada buah hati kita. Biarkan anak-anak kita tahu bahwa setiap orang bisa membuat kesalahan dan kita tetap masih menyayangi mereka, bahkan ketika kita tidak menyukai perilaku mereka.

Dapati Anak-Anak Berkelakuan Baik

Pernahkah kita memikirkan berapa kali kita bereaksi negatif terhadap anak-anak kita? Kita mungkin menemukan diri kita lebih sering mengkritik daripada memuji. Nah, jika dibalik, bagaimana perasaan kita kepada atasan yang memperlakukan kita dengan banyak komentar negatif, bahkan saat kita memiliki niat baik?

Pendekatan yang lebih efektif adalah mendapati anak-anak melakukan sesuatu dengan benar, “Wah kamu merapihkan tempat tidur, hebat ya inisiatifnya!” atau “Papa tadi lihat kakak main sama adik, kakak sabar banget ya ngejagain adk.” Pernyataan-pernyataan ini akan lebih banyak mendorong perilaku yang baik dalam jangka panjang daripada cercaan berulang.

Tetapkan Batasan dan Konsisten dengan Disiplin Kita

Disiplin diperlukan di setiap rumah tangga. Tujuan disiplin adalah membantu anak-anak memilih perilaku yang dapat diterima dan belajar mengendalikan diri. Mereka dapat menguji batasan yang kita buat untuk mereka, tetapi mereka membutuhkan batasan itu untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

Menetapkan peraturan rumah membantu anak-anak memahami harapan kita dan mengembangkan kontrol diri. Contoh beberapa aturan yang biasa diterapkan orang tua antara lain tidak menyalakan TV sampai PR selesai, tidak pulang terlalu malam, makan harus sampai habis, dan masih banyak lagi. Tapi, kesalahan umum yang dilakukan orangtua adalah kegagalan untuk menindaklanjuti konsekuensinya. Menjadi konsisten untuk terus mengajarkan si kecil mengontrol diri itu penting, namun jangan lupa dikuti dengan konsekuensi yang muncul jika aturan dilanggar. Kita dapat membuat kesepakatan bersama dengan anak kita untuk menentukan konsekuensinya.

Luangkan Waktu untuk Anak-Anak

Bagi para orang tua yang dua-duanya bekerja, seringkali sulit untuk berkumpul bersama dengan anak. Menghabiskan waktu berkualitas bersama, atau sebatas makan bersama. Tidak perlu terlalu dipikirkan waktu luang yang seperti apa yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita. Cukup dengan bangun 10 menit lebih awal di pagi hari sehingga kita dapat sarapan bersama anak atau berjalan-jalan setelah makan malam. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang mereka inginkan dari orang tua mereka sering berperilaku buruk karena mereka yakin akan diperhatikan jika seperti itu.

Buat “malam khusus” minimal sekali tiap minggu untuk menikmati kebersamaan dengan sang buah hati. Biarkan anak-anak kita membantu memutuskan bagaimana kita bisa menghabiskan waktu dengan mereka. Kita juga bisa menggunakan cara lain untuk tetap terhubung dengan mereka seperti memberikan catatan atau sesuatu yang istimewa di kotak makan si kecil.

Jangan merasa bersalah jika kita termasuk orang tua yang bekerja. Masih banyak hal kecil yang dapat kita lakukan seperti memasak masakan sederhana bersama, bermain kartu, atau sekedar window shopping.

Related Article: Cara Menyelesaikan Konflik dengan Anak

Jadilah Role Model yang Baik

Anak-anak belajar banyak tentang cara berperilaku dengan memperhatikan orang tua mereka. Perlu diingat, sebelum kita melakukan hukuman fisik di depan anak, pikirkan tentang ini: “Apakah perilaku yang seperti itu yang kita inginkan saat anak kita merasa marah?”. Sadarilah bahwa kita terus-menerus diawasi oleh anak-anak kita. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang terkena hukuman fisik biasanya memiliki model peran agresi di rumah mereka.

Buat model sifat-sifat yang ingin kita lihat pada anak-anak kita seperti rasa hormat, keramahan, kejujuran, kebaikan, toleransi, dan sifat-sifat positif lainnya. Intinya, perlakukan anak-anak seperti kita mengharapkan orang lain memperlakukan kita.

Jadikan Komunikasi sebagai Prioritas

Kita tidak bisa mengharapkan anak-anak melakukan segalanya hanya karena kita menyuruhnya seperti itu. Mereka ingin dan layak mendapat penjelasan seperti orang dewasa. Jika kita tidak punya waktu untuk menjelaskan, anak-anak akan mulai bertanya-tanya tentang nilai-nilai dan motif kita memintanya berperilaku seperti itu. Alasan baik yang disampaikan orang tua bisa membantu anak untuk belajar dan memahami dengan cara yang tidak menghakimi.

Jelaskan harapan kita dengan jelas. Jika ada masalah, jelaskan, ekspresikan perasaan kita, dan ajak si kecil untuk membuat solusi bersama. Pastikan untuk memasukkan konsekuensinya juga. Ajukan saran dan tawarkan pilihan. Terbukalah juga kepada saran dari buah hati kita. Anak-anak yang berpartisipasi dalam suatu keputusan akan lebih termotivasi untuk melaksanakannya.

Lebih Fleksibel dan Bersedia Menyesuaikan Gaya Pengasuhan

Jika kita sering merasa “dikecewakan” oleh perilaku anak kita, mungkin kita memiliki harapan yang tidak realistis. Lingkungan anak-anak berpengaruh pada perilaku mereka, sehingga kita mungkin dapat mengubah perilaku tersebut dengan mengubah lingkungan. Jika kita terus-menerus mengatakan “tidak” kepada anak kita yang masih berusia 2 tahun, carilah cara untuk mengubah sekeliling kita sehingga lebih sedikit hal-hal yang terlarang untuk si kecil. Maka rasa frustrasi bagi kedua orang tua juga akan menjadi lebih sedikit.

Saat anak kita semakin bertumbuh, kita secara bertahap harus mengubah gaya pengasuhan kita. The point is, apa yang berhasil dengan anak kita saat ini belum tentu akan berhasil juga dalam satu atau dua tahun ke depan. Yuk terus belajar tentang parenting sehingga bisa menyesuaikan pola asuh seiring dengan berkembangnya buah hati kita.

Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago