Categories: Parenting

Mengatasi Kecemasan Anak Menjelang Masuk Sekolah

Di seluruh penjuru dunia, banyak anak telah kembali bersekolah. Orang tua jadi mendadak ‘ribet’ menyiapkan kebutuhan anak di tahun ajaran barunya. Lalu bagaimana dengan anak kita? Apakah mereka begitu antusias menunggu saat-saat ini?

Kecemasan bisa muncul pada anak yang sedang berada pada masa transisi ke lingkungan baru. Kecemasan dan kekhawatiran wajar muncul pada si kecil terutama yang baru bersekolah untuk pertama kalinya. Mungkin, anak-anak yang sedikit lebih tua beberapa tahun juga masih mengalami hal serupa. Bisa jadi karena ia baru pindah sekolah atau pergantian kelas, yang dulunya kelas 4-C menjadi 4-B. Mereka mengkhawatirkan hal-hal seperti gimana cara berteman dengan orang baru, perform dengan baik di kelas, dan menyesuaikan diri dengan guru yang juga baru. Lebih buruknya lagi (semoga tidak terjadi pada lingkungan di sekitar anak kita), adanya peristiwa tidak mengenakkan di sekolah seperti pencurian, bullying, dan sebagainya, bisa memicu stress pada anak. Kalau sudah seperti itu, kita sebagai orang tua harus meredakan stress mereka.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 3 persen anak berusia 3 hingga 17 tahun diidentifikasi memiliki gangguan kecemasan. Angka ini mewakili tingkat kecemasan yang lebih ekstrim yang mungkin terkait dengan kekhawatiran seperti penolakan di sekolah, kecemasan akan perpisahan, dan kekhawatiran tentang situasi sosial. Erlanger Turner, psikolog yang juga akademisi di University of Houston-Downtown, mengatakan bahwa kecemasan itu normal, tetapi dalam situasi tertentu bisa membuat orang sulit untuk menjalani kehidupan yang produktif. Ketika kecemasan menghampiri anak-anak, bisa menyebabkan gangguan tidur, masalah dengan konsentrasi, atau mengakibatkan frustrasi yang menghasilkan kemarahan.

Untuk mengantisipasi hal itu, berikut tips dari Erlanger Turner untuk mengatasi kecemasan pada si kecil terutama menjelang masuk sekolah.

Atur jadwal tidur

Menurut dokter anak, kebanyakan anak harus tidur antara 8-13 jam per malam. Penting untuk mendapatkan tidur yang cukup untuk meningkatkan perhatian dan konsentrasi, memori, dan kesehatan mental secara keseluruhan. Ketika anak-anak tidak mendapatkan cukup tidur, mereka akan lebih mudah tersinggung dan meningkatnya masalah kesehatan mental.

Tanyakan tentang kekhawatiran dan ketakutan mereka

Adalah umum bagi orang tua atau orang dewasa lainnya untuk tidak memperhatikan kecemasan. Karena kita sering menginternalkan perasaan kita, orang mungkin tidak mengenali ketakutan kita kecuali kita memberitahu mereka. Namun, tanda-tanda umum kecemasan adalah sakit perut, kesulitan memecahkan masalah, menghindari situasi, dan susah tidur. Untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan dikhawatirkan buah hati kita, luangkan beberapa menit untuk mengajukan beberapa pertanyaan.

“Apa yang bikin adik khawatir buat masuk sekolah?”

“Pas tahun ajaran kemarin, ada rasa tertekan atau stress mungkin?”

“Kamu kenapa, kok terlihat seperti kurang bersemangat buat sekolah besok?”

Buat rencana ke depan

Seringkali, kekhawatiran dan kecemasan dihasilkan dari ketakutan akan ketidaktahuan atau ketidakpastian. Semakin kita bisa membantu anak-anak memikirkan kemungkinan situasi dan rencana ke depan, maka akan semakin  membantu mengurangi kecemasan. Mengidentifikasi rencana sebelumnya bisa mengurangi pikiran dan harapan negatif. Misalnya, jika si kecil sedang bertransisi ke sekolah baru, luangkan waktu untuk berbicara dengan mereka tentang cara menangani percakapan dengan teman sekelas baru atau meminta bantuan dari guru mereka.

Identifikasi strategi coping

Bagi orangtua, rasanya wajar untuk mendorong atau memaksa anak untuk menghadapi kecemasan. Namun, memberi tahu sang buah hati bahwa “semuanya akan baik-baik saja” mungkin lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Banyak anak merasa sulit untuk melalui itu karena tidak memiliki beberapa strategi untuk mengubah pemikiran negatif mereka atau mengurangi psikosomatis (seperti sakit perut atau nafas yang menjadi pendek-pendek). Beberapa saran sederhana yang bisa digunakan adalah mengajari anak-anak untuk menggunakan positive self-talk, seperti “aku bisa” dan “aku akan baik-baik saja” atau teknik-teknik relaksasi seperti visualisasi (mengambang di awan atau berbaring di pantai) dan bernapas dalam-dalam (membayangkan paru-paru adalah balon dan membiarkan mereka perlahan-lahan mengempis).

Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago