Categories: Stories

Seto Ery Pradhana: Pengalaman Nyata Menjadi The Real Father

Di era modern saat ini, banyak orang tua yang harus mengorbankan waktu dengan keluarganya karena banyaknya pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan. Terutama bagi para Ayah yang memiliki peran besar sebagai tulang punggung keluarga. Tak heran jika perhatian terhadap sosok Ayah di dunia parenting terkesan tidak begitu banyak disebutkan.

Namun, berbeda dengan Seto Ery Pradhana. Psikolog sekaligus fotografer yang sudah dikaruniai 3 buah hati ini juga merasakan pengalaman yang luar biasa selama 10 tahun menjadi ‘the real father’. Seto bersyukur karena memutuskan untuk menjadi entrepreneur bersama sang istri (Andita). Seto mengaku, satu kelebihan berkecimpung di dunia entrepreneur adalah bisa memiliki banyak quality time dengan anak-anaknya.

Quality itu over quantity. Tapi dalam hal parenting, makin banyak kuantitasnya makin bagus kualitasnya.

“Jadi, dengan waktu yang fleksibel, bisa menyesuaikan kapan anak-anak ada di rumah. Jadi gue bisa nganterin anak ke sekolah, nemenin anak tidur, nemenin jalan-jalan, dan lain-lain,“ ucap Seto.

Nana, Dio & Sky

Anak-anak harus dibebaskan tapi juga diberikan arahan

Tidak hanya meluangkan waktu bersama buah hatinya, Seto juga meyakini adanya multiple intelligence pada diri tiap anak. Ia mengatakan bahwa kecerdasan tidak hanya tercermin dari perolehan ranking ataupun nilai akademis yang bagus. “Jago musik, jago gambar, jago olahraga, itu semua adalah bentuk intelligence yang harus kita hargai. Jadi untuk anak, gue gak pernah maksain untuk berprestasi dalam bidang sekolah yang rata-rata hanya fokus dengan nilai akademis. Kurang lebih mengedepankan intelligence logical mathematical ataupun linguistic,” kata Seto. Ayah nyentrik ini juga merasa bahwa banyak kecerdasan yang tidak bisa dinilai dengan sistem pendidikan saat ini. Muncullah prinsip dimana anak-anak harus dibebaskan tapi juga diberikan arahan.

Consistent Fatherhood,
How Well do They Apply to You?

“Jadi tugas kita sebagai orang tua adalah mengarahkan anak-anak kepada hal yang dia sendiri mungkin belum tau, belum digali potensinya, dan juga belum digali minatnya. Sebagai orang tua kita harus bisa mengarahkan, bukan melakukan inception dari apa yang kita mau.”

Seto bersama anak-anaknya: Nana, Dio, Sky

Sebagai orang tua, kita harus kritis terhadap informasi-informasi tentang parenting

Menjadi orang tua adalah pengalaman yang membuat Seto menyadari pentingnya peran dirinya sebagai parent bagi anak-anaknya. Ia juga menyadari bahwa terkadang antara teori dan praktek ilmu-ilmu tentang parenting itu bisa sangat berbeda. Jadi, mungkin sekarang sudah banyak informasi-informasi mengenai bagaimana menjadi orang tua yang baik, langkah membesarkan anak, dan sebagainya, tapi pada prakteknya dibutuhkan banyak penyesuaian sesuai dengan budaya setempat. “Padahal teori-teori dari barat itu mungkin benar 100% kehidupan di barat. Sedangkan kita di timur. Harus kita akui teori-teori dan lain sebagainya itu datangnya dari barat, bukan dari timur. Jadi harus kita adaptasi, dan gak bisa dilakukan secara kaku,” terang Seto. Ia menyebutkan contoh nyata yang terjadi misalnya ada informasi bahwa penggunaan kata ‘jangan’ yang tidak disarankan untuk digunakan, tidak memberikan peringatan secara fisik kepada si kecil, dan sebagainya. Menurut Seto, sebagai orang tua, kita juga harus kritis terhadap informasi-informasi tersebut.

Pentingnya Keterlibatan Ayah
dalam Tumbuh Kembang Anak

Seto tidak menampik adanya pola asuh yang turun temurun dari orang tua terdahulu karena kurangnya pengetahuan mengenai informasi terkait parenting. “Yang harus kita perbuat adalah melakukan upgrade + evolve, dan memperbaiki apa yang telah diperlakukan orang tua kepada kita. Jadi gak harus kaku banget. Gak boleh bentak, gak boleh gini, gak boleh gitu. Ya pada tempatnya lah, asal jangan berlebihan.”

Reward and punishment

Hal ini juga berpengaruh kepada cara orang tua saat ini dalam mendisplinkan anak. Seto mengingatkan bahwa dalam mengajarkan disiplin pada anak, jangan sampai tujuan kita terpengaruh dengan keadaan emosi sesaat yang muncul pada saat itu. Terkadang kita akan marah ke anak jika ia melanggar suatu aturan atau tidak melakukan apa yang kita kehendaki misalnya memecahkan gelas, merusak perabotan rumah, dan sebagainya. Seto pun menekankan pemberian reward & punishment untuk membiasakan perilaku anak-anak.

Jangan hanya memberi punishment ketika anak salah, tapi juga reward. Jadi, pada saat anak salah berikan punishment. Pada saat anak benar kasih reward juga.

Lalu, apa tujuan reward dan punishment yang diterapkan Seto? “Satu hal yang perlu diketahui, tujuan punishment adalah mengurangi perilaku. Misalnya, anak suka ngeludah sembarangan, atau suka mecahin barang-barang, kita kasih punishment. Tujuannya apa? Biar tidak melakukannya lagi. Kalau misalnya anak belajar dengan rajin, atau sholat tepat waktu, ya kita kasih reward juga. Tujuannya untuk apa? Untuk menambah perilaku yang kita inginkan.”

Tapi, Seto tak dapat menyangkal bahwa orang tua terkadang marah dengan anaknya begitu saja tanpa menyadari tujuan dari marahnya tersebut. Padahal tujuan memarahi si kecil adalah untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan. “Bahkan pada saat kita nyubit anak atau memukul ringan tangannya, itu harus bertujuan bukan karena kita kesal, tapi agar perilaku yang kita tidak inginkan berkurang,” terang Seto.

I hope that my children can be the best version of themselves

Di akhir wawancara, Seto juga menceritakan harapannya terhadap anak-anaknya. Seto tidak memiliki harapan yang spesifik. Ia membebaskan anaknya menjadi apa saja. Hal terpenting bagi Seto adalah ia mengharapkan buah hatinya menjadi anak yang baik, mampu menghargai orang lain, berakhlak baik, namun juga memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap lingkungan sekitar sehingga tidak mudah dimanfaatkan orang lain. “Harapan umum sih gue mau anak-anak gue can be the best version of himself or herself. Jadi bisa meraih potensi maksimal. Udah gitu aja. kalo potensinya cuma 50 yaudah 50. Gak fair kalau gue ngarepin dia bisa 80 padahal potensinya 50.”

Seto mengakui, banyak pandangan hidupnya yang berubah setelah dikaruniai anak. Ia merasa siap untuk rela berkorban demi anak-anaknya, hal yang tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan sebelumnya.

“Dalam hidup gak pernah gue rasain rela berkorban macem-macem banget. Sebelumnya gue gak pernah kepikiran kalo ada peluru gue pasang badan biar gue yang ketembak, setelah ada anak bisa gue bayangkan itu. Kasarnya gue rela mati. Beda banget lah sama dulu, bisa dibilang anak hampir segalanya.”

Apa yang diceritakan Seto secara tidak langsung mengungkapkan bagaimana usaha seorang Ayah dalam membesarkan buah hatinya. Tidak hanya sebagai tulang punggung, namun Seto juga membuktikan bahwa informasi-informasi terkait parenting juga penting bagi dirinya. Kasih sayang seorang Ayah juga dapat kita refleksikan dari diri Seto. Ya, mungkin tidak semua Ayah mudah untuk langsung menyatakan rasa sayangnya kepada anaknya, namun sosok Ayah lah yang berani menjadi orang yang berada di barisan paling depan demi menjaga anak-anaknya.

Parently @http://twitter.com/parentlyid

Empowering moms & dads to raise great, happy and healthy kids.

Comments are closed.

Recent Posts

Kehadiran Orang Tua, Hadiah Terbaik Musim Liburan

Salah satu manfaat musim liburan adalah kita mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan keluarga.

50 years ago

Manfaat Vitamin D Untuk Mencegah Flu

Para peneliti mengamati 11.000 orang di 14 negara berbeda, dan menemukan bahwa meningkatkan vitamin D bisa mengurangi risiko terkena pilek…

50 years ago

Sindrom Angelman, Sindrom Genetik Langka Yang Membuat Anak Terlihat Bahagia

Sikap ini bisa sangat berbeda dengan banyak anak lain dengan NDD, yang mungkin tampak menarik diri atau menyendiri.

50 years ago

Anak Mendengkur, Indikasi Gangguan Tidur

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana dengkuran bisa dikaitkan dengan masalah neurokognitif, kardiovaskular, pertumbuhan, dan perilaku nantinya.

50 years ago

Tips Memilih Kelas Bela Diri Untuk Anak

Stacey McDowall, seorang ibu dari anak yang hiperaktif mengatakan bahwa setelah mendaftarkan anaknya (Weston) kursus bela diri, si kecil menjadi…

50 years ago

Manfaat Sup Untuk Kesehatan Balita

Sayur atau makanan lain yang tidak disukai bayi bisa dipotong keci-kecil atau dicampurkan ke dalam sup.

50 years ago